Selasa, 26 Februari 2013

Barcelona vs Madrid: Higuain Kembali Jadi Andalan Lini depan

Barcelona vs Madrid: Higuain Kembali Jadi Andalan Lini depan

TRIBUNNEWS.COM, BARCELONA - Real Madrid akan kembali berharap pada ketajaman Gonzalo Higuain ketika melakoni leg pertama semifinal Copa del Rey lawan Barcelona yang digelar di Nou Camp, Rabu (27/2) dini hari waktu Indonesia.
Pelatih Madrid, Jose Mourinho terpaksa mengandalkan Higuain lagi menyusul kondisi Karim Benzema yang masih meragukan karena masih dalam masa pemulihan cedera.
Sabtu lalu, bomber asal Argentina tersebut menyumbang satu gol saat Madrid menekuk Deportivo La Coruna 2-1 di La Liga. Itu merupakan gol ke-100 Higuain dalam 179 laga bersama Los Blancos. 

Retrospeksi Final Piala Liga Inggis 2013: Kemenangan Sepak Bola


Oleh: Yoga Cholandha

Semalam (24/2) waktu Inggris, telah terjadi sebuah peristiwa monumental yang bisa saja menjadi sebuah momen sekali seumur hidup bagi para penggemar sepak bola kekinian. Ketika sepak bola sudah terlalu identik dengan uang, uang, dan uang, Bradford City dan Swansea City hadir untuk mengingatkan kita semua bahwa sepak bola tidak pernah soal hitung-hitungan materi, melainkan apa yang ditampilkan di atas lapangan hijau.

Bradford City, jawara Piala FA 1911, adalah sebuah tim yang akan selalu lebih dekat dengan tragedi kebakaran di Stadion Valley Parade milik mereka tahun 1985 silam. Sebanyak 56 penonton tewas ketika itu. 

Sementara itu, meski berhasil mendapatkan puja-puji atas permainan cantiknya selama berlaga di Premier League dua musim terakhir, Swansea City belum pernah meraih trofi apa pun di belantara persepakbolaan Inggris. Mereka selama ini lebih dikenal sebagai tim pertama (sekaligus yang menyia-nyiakan) Giorgio “Long John” Chinaglia. Tidak lebih. 

Bradford City datang dengan gagah ke Wembley setelah dalam perjalanannya berhasil mengalahkan dua tim Premier League, Arsenal dan Aston Villa. Sedangkan Swansea berhasil menyingkirkan Chelsea di semifinal dalam saga yang diwarnai tendangan Eden Hazard ke perut anak gawang Stadion Liberty. Bradford City yang filosofi bermainnya masih sangat berbau Britania, akhirnya berhadapan dengan Swansea City yang tipe permainannya lebih kontinental, kalau tidak mau disebut berbau Spanyol.

Sebagai tim divisi empat, memang tidak banyak yang bisa diharapkan dari Bradford. Harga pemain mereka jika ditotal masih kurang dari gaji harian Wayne Rooney. Pemain-pemain mereka terdiri dari para pemain semi-pro, pemain-pemain belia, dan buangan dari tim lain. Beberapa di antara mereka malah ada yang baru benar-benar bermain sepak bola kurang dari tiga tahun lamanya. Perjalanan mereka di League Two musim ini pun tidak memuaskan. Mereka terjebak di papan bawah dan hanya menang dua kali dari 11 pertandingan terakhir.

Swansea City, selain dengan status sebagai tim anggota Premier League, punya modal lebih dari cukup untuk sekadar membungkam Bradford City. Kebijakan transfer mereka cerdas. Tidak hanya soal pemain, tetapi juga pelatih. Mereka musim ini mendaratkan tiga pemain berkualitas dengan harga miring. Sebut saja Michu Cuesta, Jonathan De Guzman, dan Ki Sung-Yeung. Lalu untuk menggantikan Brendan Rodgers, mereka mendatangkan juru taktik berbakat asal Denmark, The Mighty Michael Laudrup. 

Di bawah Laudrup, permainan Swansea musim ini mengalami perkembangan yang cukup signifikan. Mereka tidak hanya piawai menguasai bola, tetapi serangan-serangan mereka juga jauh lebih berbahaya. Terakhir, sebelum laga melawan Bradford City, mereka sudah menyimpan kekuatan terbaik mereka meskipun harus dibayar dengan kekalahan 0-5 dari Liverpool.

Hasilnya sesuai dugaan. Bradford City harus puas kejutannya terhenti. Mereka takluk dengan skor telak 0-5 dari Swansea. Nathan Dyer mencetak dua gol, Jonathan De Guzman mencetak dua gol, Michu mencetak satu gol, dan penjaga gawang Bradford City, Matt Duke, mendapat kartu merah. Meskipun diwarnai dengan adegan berebut tendangan penalti dengan Jonathan De Guzman, Nathan Dyer tetap dinobatkan sebagai “Man of the Match” pertandingan kali ini.

Hasil ini sama sekali bukan antiklimaks bagi Bradford City, melainkan sebuah penghargaan yang layak atas Swansea City. Dengan melaju sampai babak final saja, rasanya itu sudah cukup melenakan para pendukung Bradford City. Sementara untuk Swansea City, mereka memang sudah saatnya memenangi sesuatu, dan gelar Piala Liga ini diharapkan menjadi pembuka. Bradford City tidak sepenuhnya kalah, karena mereka sudah melakukan yang terbaik. Menyingkirkan Arsenal tentunya sudah merupakan prestasi tersendiri, bukan?

Menyenangkan rasanya melihat dua tim dengan perjuangan finansial seperti Bradford City dan Swansea City bisa mentas di partai final kejuaraan nasional seperti ini. Krisis finansial membuat The Bantams harus terlempar dari Premier League pada 2001. Sampai sekarang, mereka belum pernah lagi merasakan nikmatnya berlaga di kompetisi kasta tertinggi di Inggris tersebut. Sementara Swansea, di periode yang hampir sama (musim 2001-2002) juga pernah mengalami kebangkrutan hingga akhirnya kepemilikannya diambil oleh kelompok suporter mereka, Swansea City Supporters’ Trust.

Jalan yang ditempuh Swansea City memang lebih menyenangkan ketimbang Bradford City. Di bawah kawalan suporter setia, Swansea City berhasil melakukan trajektori sempurna untuk berlaga di kompetisi kasta tertinggi Liga Inggris. Filosofi ball retention yang saat ini lekat dengan mereka pun tidak jadi dalam satu malam. Mulai dari Paulo Sousa, Roberto Martinez, hingga Brendan Rodgers dan Michael Laudrup semuanya menanamkan filosofi sepak bola indah tersebut ke dalam klub yang bagai dilahirkan kembali ini.

Sekarang, Swansea menghadapi awal dari sebuah era baru sebagai salah satu tim yang diperhitungkan di kancah persepakbolaan Inggris. Fase mereka sebagai tim kejutan seharusnya sudah mampu mereka lewati. Musim depan mereka akan berlaga di Eropa untuk pertama kali sebagai wakil dari Inggris. Mereka pernah melakukannya di musim 1991/92 sebagai wakil Wales di Cup Winners’ Cup. Kali ini, situasinya benar-benar lain. Sebagai wakil Premier League, liga yang paling disorot saat ini, tekanan di tubuh Swansea akan semakin kuat. Musim depan, ujian sesungguhnya akan dihadapi Swansea City.

Lebih dari semua itu, pertandingan final Piala Liga tadi malam adalah kemenangan sepak bola itu sendiri. Selain karena mempertemukan dua tim tanpa tradisi prestasi yang kuat, semalam, trofi Piala Liga juga diserahkan oleh Fabrice Muamba. Muamba, eks-gelandang Bolton Wanderers itu harus pensiun dari dunia sepak bola karena jantungnya tak lagi mengizinkan untuk terus bermain sepak bola secara profesional. Terakhir, momen final Piala Liga semalam juga semakin indah karena bertepatan dengan 20 tahun wafatnya Bobby Moore, kapten Inggris di Piala Dunia 1966.

Sembari mengenang Bobby Moore dan memberi penghormatan kepada Fabrice Muamba, sepak bola Inggris semalam merayakan sebuah momen penting yang menunjukkan bahwa tidak selamanya sepak bola modern dapat diukur dengan kekuatan finansial. Mereka sekaligus juga mampu mengejawantahkan pepatah buatan Sepp Herberger, pelatih legendaris Jerman itu, yang berbunyi: bola itu bundar. 

Selamat untuk Swansea City, selamat untuk Bradford City.

Tips Membeli Sepatu Sepak Bola

Sepatu Zlatan Ibrahimovic (Claudio Villa/Getty Images)
Sepatu Zlatan Ibrahimovic (Claudio Villa/Getty Images)

Ditulis oleh: Kusuma

Olahraga sepak bola erat kaitannya dengan sepatu. Pemain sepak bola profesional diwajibkan menggunakan sepatu di lapangan hijau untuk bermain dan berlatih. 

Namun yang jadi pertanyaan, apakah semua sepatu bisa digunakan untuk bermain sepak bola? Jawabannya tidak. Jika Anda salah memilih maka bisa-bisa Anda mengalami cedera serius. 

Bahkan sepatu yang sudah khusus untuk bermain sepak bola pun tak bisa kita pilih secara sembarangan. Ada beberapa faktor yang harus diperhatikan agar bisa menemukan sepatu yang ideal. 

Kesalahan dalam memilih sepatu pernah dirasakan oleh legenda Manchester united, Eric Cantona. Akibat dirinya salah memilih sepatu, Cantona mengalami cedera serius pada tahun 2005. Hal tersebut membuat sang manajer, Sir Alex Ferguson mencak-mencak. 

Lantas apa yang harus diperhatikan dalam memilih sepatu sepak bola? Jika hal itu ditanyakan kepada gelandang Arema Malang, Djoko Sasongko, sepatu yang ideal tentulah sepatu yang nyaman ketika digunakan. 

“Sepatu yang nyaman itu yang pas buat di kaki kita. Jadi enak buat gerak kemana pun,” tutur mantan pemain timnas U-23 SEA Games tersebut. 

Soal harga, Djoko mengatakan hal itu bukanlah sebuah jaminan. Menurutnya, akan percuma membeli sepatu mahal tapi tak sesuai dengan ukuran kaki sang pemakai.  

“Kalau saya yang penting sepatu itu nyaman di kaki. Percuma mahal-mahal tapi tidak nyaman,” jelasnya lagi. 

Lantas bagaimana cara mengetahui kita bisa sesuai dengan sepatu yang akan dibeli? Jangan langsung jatuh hati pada sepatu yang ingin Anda beli hanya dengan mencobanya di depan cermin. 

Pakai sepatu dengan berjalan atau berlari di sekitar toko biar betul-betul enak memakainya saat berolahraga. Jangan lupa, untuk memakainya dengan kaos kaki. Karena kaos kaki menyempurnakan kenyamanan memakai sepatu.  

Ternyata tak semua pemain suka membeli sepatu yang pas di kakinya. Pemain belakang Persijap Jepara, Gunawan Dwi Chayo, mengatakan dirinya lebih suka membeli sepatu yang sedikit lebih kecil dari ukuran kakinya. 

“Jadi kalau beli yang kecil, nanti sepatunya bisa melar. Nah, nantinya sepatu itu akan terbentuk sesuai kaki kita,” ungkap pemain yang pernah membela Arema Indonesia itu. Jadi pada akhirnya, yang dibutuhkan adalah pas cetakan kaki. 

Kalau soal harga, Gunawan sepakat dengan Djoko. Menurutnya, sepatu mahal tak menjamin akan membuat sang pemain terhindar dari cedera. “Soal harga tak masalah, yang penting nyaman,” lanjutnya. 

Selain soal ukuran dan harga, bahan sepatu juga layak diperhatikan. Tapi, kata Gunawan, penentuan bahan sepatu disesuaikan dengan lapangan yang akan digunakan. 

“Bahan sepatu itu ada yang kulit sama bahan biasa. Itu semua nanti disesuaikan dengan kondisi lapangan,” ungkap suami Okky Agustina tersebut. 

Bentuk pul (stud - tonjolan di bawah sepatu bola) juga menjadi salah satu faktor penting. Akibat memakai sepatu dengan pul berbentuk blade, David Beckham, Danny Murphy, Gary Neville, Trevor Sinclair, Wayne Rooney dan Steven Gerrard harus mengalami cedera metatarsal (retak tulang telapak kaki).  

Karena itu memilih sepatu bola memang bukan perkara asal-asalan. Mulai dari jenis, ukuran dan terutama harganya. Masih mau beli sepatu sepak bola yang mahal atau memilih sepatu yang nyaman untuk Anda?

Kecewa FIFA, La Nyalla Tarik Kembali Ucapannya


BOLA.NET - Sosok Ketua Umum Komite Penyelamat Sepak Bola Indonesia (KPSI) La Nyalla Mahmud Matalitti, seolah tidak habis membuat langkah yang kontroversial.
Setelah sebelumnya sempat menyatakan akan membubarkan KPSI setelah dirinya kembali ke kantor PSSI, La Nyalla mengatakan bahwa rencana tersebut belum akan terlaksana dalam waktu dekat. Kontan saja sikap tersebut membuat dirinya seakan menjilat ludah sendiri.
Alumnus fakultas Teknik asal Universitas Brawijaya (1965-1971) yang lahir di Jakarta, 10 Mei, 1659 tersebut, mengaku memiliki alasan kuat sehubungan membatalkan niat membubarkan KPSI.
Ketua Pengurus Provinsi (Pengprov) PSSI Jawa Timur tersebut mengatakan, mempertanyakan konsistensi FIFA yang sebelumnya mengamanatkan terselenggaranya Kongres Biasa (KB) oleh PSSI dan KPSI.
Dikatakannya lagi, FIFA sebelumnya mengamanatkan menggelar Kongres Biasa yang tercantum dalam Nota Kesepahaman (MoU) antara PSSI dan KPSI di Kuala Lumpur, Malaysia, 7 Juni 2012. Kemudian, katanya lagi, seputar pelaksanaan KB kembali ditegaskan melalui surat FIFA tanggal 18 Desember.
"Artinya, sekarang FIFA yang melanggar kesepakatan. Sehingga, jangan salahkan kami kalau KPSI jalan terus. Sebab, Kongres Luar Biasa (KLB) bukan amanat MoU," ucapnya.
Dengan begitu, La Nyalla seolah mengabaikan seruan Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) supaya semua pihak patuh dan hanya berpegang pada surat FIFA tertanggal 22 Februari yang ditanda tangani Kepala Asosiasi anggota FIFA Primo Carvaro. Secara terang-terangan Menpora mengatakan, surat tersebut merupakan jawaban atas semua pertanyaan yang pernah disampaikannya kepada FIFA.
FIFA menjelaskan, jika Kongres PSSI berstatus KLB dan bukan KB. Hal tersebut diputuskan FIFA setelah mempertimbangkan tenggat waktu pelaksanaan Kongres.
Sesuai statuta FIFA, Kongres memang harus berstatus KLB. Kongres PSSI pada 17 Maret nanti, hanya memiliki waktu persiapan sekitar empat minggu atau setelah pihak PSSI dan KPSI yang difasilitasi Menpora melakukan kesepakatan di Jakarta, pada 18 Februari.
Selain itu, pemutusan KLB dilakukan untuk menghindari kemungkinan adanya pengubahan agenda dari yang sebelumnya telah disepakati FIFA dan AFC. Yakni, tentang penyatuan liga, revisi statuta, dan pengembalian empat mantan Komite Eksekutif (Exco) terhukum, La Nyalla Mahmud Mattalitti, Roberto Rouw, Tonny Aprilani, dan Erwin Dwi Budiawan.
Pada KB, agenda bisa diubah sesuai dengan keputusan peserta yang hadir. Sedangkan di KLB, agenda yang telah ditetapkan sebelumnya tidak bisa diubah. (esa/dzi)

Andik Vermansyah Jadi Bulan-bulanan Cemooh Penonton


Andik Vermansyah Jadi Bulan-bulanan Cemooh Penonton
TRIBUNNEWS.COM – Dukungan penonton menggemuruh kala skuat Timnas Indonesia memasuki lapangan Stadion Baharoeddin Siregar, Lubukpakam, Deliserdang, beriringan dengan Semen Padang, Kamis (24/1/2013).
Penonton meneriakkan yel-yel dan tepuk tangan saat Andik Vermansyah menunjukkan aksi dan pergerakannya pada laga ujicoba perdana timnas ini. Namun gebyar dukungan pada gelandang muda bernomor punggung 21 ini, berbalik saat Semen Padang berhasil membobol gawang Timnas yang dijaga Endra Prasetya pada menit ketujuh.
Gol cepat yang diciptakan Titus Bonai membuat simpati penonton berbalik ke skuat Semen Padang. Pascagol tersebut Andik menjadi bulan-bulanan penonton hingga laga usai. Setiap bergerak merebut dan menggiring bola teriakan cemooh tertuju padanya.
Pada uji coba ini Timnas Indonesia takluk pada Semen Padang 2-3. Tiga gol jawara Indonesia Premier League musim 2011/2012 itu diciptakan Titus Bonai di menit tujuh dan dua gol Edward Wilson di menit 41 dan 78. Sedangkan dua gol tim Garuda diceploskan Venry Mofu pada menit ke-47 dan Mario Aibekop pada menit ke-90.
Skuat besutan Nil Maizar yang berlaga di Kualifikasi Pra Piala Asia (PPA) 2015 belum mampu mewantahkan permainan terbaik. Andik dan kawan-kawan terlihat kikuk menyuguhkan kerjasama tim baik saat menyusun serangan maupun skema bertahan.
Gurat kekecewaan terlihat jelas di wajah Nil. "Kalau dibilang kecewa, tentunya kami kecewa dengan hasil ini. Namun tentunya ini akan menjadi pelajaran bagi kami untuk semakin berbenah, apalagi nanti lawan-lawan yang akan dihadapi di PPA kualitasnya jauh lebih bagus dari Semen Padang," kata eks pelatih Semen Padang ini.

Jelang Pertandingan: Barcelona vs Real Madrid di Copa del Rey Leg 2


Dani Alves, CR7 (David Ramos/Getty Images)



Ditulis oleh: Sirajudin Hasbi


Dalam minggu ini ada dua pertandingan El Clasico. Yang pertama, Barcelona dan Real Madrid akan bertemu di ajang Copa Del Rey (Piala Raja) dan La Liga pada Sabtu (2/3) WIB. Di tengah pekan, pada Rabu (27/2) dinihari WIB, pertandingan leg 2 semifinal Copa Del Rey akan berlangsung di rumah Barcelona, Camp Nou. 

Barcelona jelas lebih diunggulkan melaju ke final menantang pemenang antara Sevilla dan Atletico Madrid. Pertandingan pertama di Santiago Bernabeu, Los Azulgrana berhasil menahan imbang Los Blancos dengan skor 1-1. Cesc Fabregas sempat membawa Barcelona unggul di menit ke-50 sebelum Raphael Varane menyelamatkan Real Madrid dari kekalahan menjelang akhir pertandingan. 

Dengan bekal satu gol, Barcelona hanya membutuhkan kemenangan dengan skor berapa pun atau cukup bermain imbang tanpa gol untuk bisa melaju ke final Copa Del Rey. Tidak sulit bagi Barcelona untuk menyudahi pertandingan tanpa gol — Tito Vilanova cukup memerintahkan para pemainnya bermain kucing-kucingan sepanjang pertandingan. 

Namun, mengejar hasil imbang tanpa gol jelas terlalu berisiko sebab Real Madrid pasti berusaha mati-matian agar bisa lolos. Mereka dibekali misi harus menang atau setidaknya menghasilkan hasil imbang dengan lebih dari 1 gol, seperti 2-2, 3-3 atau skor besar lainnya. Apalagi Copa Del Rey adalah salah satu dari dua trofi yang tersisa untuk bisa mereka raih musim ini. 

Di ajang Liga Champions peluang masih terbuka, tetapi nasib akan ditentukan minggu depan kala mereka harus bertandang ke Old Trafford. Berbekal hasil imbang 1-1 di kandang sendiri, jelas bukan misi mudah menaklukkan Manchester United di rumah sendiri. Terlebih Jose Mourinho punya rekor buruk bertandang ke Old Trafford, tidak pernah menang. Pertandingan Real Madrid di Old Trafford terakhir kali juga berakhir dengan kekalahan. Jadi, Copa Del Rey adalah target paling memungkinkan untuk mereka raih agar mereka tak puasa gelar musim ini. 

Perkiraan Formasi

Guna menghadapi pertandingan maha penting ini, Real Madrid menyiapkan skuat terbaiknya. Tidak ada masalah berarti dalam skema permainan Mou. Masalah justru ada di sektor penjaga gawang. Kiper Iker Casillas belum bisa diturunkan sehingga Diego Lopez tetap menjadi pilihan utama setelah Mourinho dikabarkan terlibat cekcok dengan Antonio Adan, kiper cadangan Real Madrid.  

Mou tampaknya tetap memainkan formasi 4-2-3-1 dengan empat bek akan diisi oleh Arvalo Arbeloa, Sergio Ramos, Raphael Varane dan Fabio Coentrao. Double pivot akan diisi oleh Sami Kheidira dan Xabi Alonso. Tiga gelandang menyerang seperti biasa akan diisi oleh Cristiano Ronaldo, Angel Di Maria dan Mesut Ozil. Ricardo Kaka yang bermain bagus kala bertemu Deportivo La Coruna mungkin bisa jadi pilihan alternatif. Sementara penyerang tunggal kemungkinan akan ditempati oleh Gonzalo Higuain, yang mencetak satu gol saat menang 2-1 atas Deportivo La Coruna akhir pekan lalu. 

Sementara Barcelona yang bertindak sebagai tuan rumah tidak kalah serius. Kekalahan 0-2 dari AC Milan di ajang Liga Champions tentu membuat Copa Del Rey menarik untuk menjadi trofi alternatif jika gagal melangkah jauh di Liga Champions. 

Jose Manuel Pinto agaknya akan menjadi pilihan Tito Vilanova. Kiper gaek ini hanya kebobolan enam gol dari delapan penampilannya musim ini. Empat bek di depannya akan diisi Dani Alves di kanan, duet Carles Puyol dan Gerard Pique di jantung pertahanan, serta Jordi Alba di sisi kiri. Adriano yang sudah kembali dari cedera bisa menjadi pilihan alternatif sebagai bek sayap. 

Dengan patron 4-3-3, lini tengah Barcelona menjadi kunci. Dan percaya atau tidak, pemain yang dianggap paling tidak berpengaruh, Sergio Busquets justru menjadi pilihan yang tidak tergantikan dalam formasi ini. Pendampingnya bisa antara Xavi Hernandez, Cesc Fabregas, atau Andres Iniesta. Kombinasi pendamping Busquets tergantung pada siapa yang akan diturunkan di lini depan. Karena bisa saja, Iniesta diplot sebagai salah satu penyerang.  

Lionel Messi jelas jadi pilihan utama. Dia sedang berada dalam jalan mengukir sejarah untuk mengkudeta Alfredo Di Stefano dari pencetak gol terbanyak dalam sejarah El Clasico. Dengan dua gol, Messi akan melampaui perolehan 18 gol Di Stefano. Sejauh ini Messi sudah mencetak 17 gol. Akan semakin indah jika rekor itu dia ciptakan di Cam Nou. 

Pedro Rodriguez jelas pemain paling favorit untuk mendampingi Messi. Satu slot lagi mungkin akan diisi oleh Iniesta atau David Villa yang sedang menunjukkan performa bagus. Villa mencetak satu gol saat menaklukkan Sevilla 2-1.

Perkiraan Pertandingan 

Pertandingan Rabu dini hari (waktu Indonesia) tampaknya akan berlangsung menarik. Kedua tim akan jual-beli serangan demi mengejar kemenangan. Pandangan mata tidak hanya tertuju pada pertarungan Messi dengan Ronaldo, tetapi Xavi atau Iniesta dengan Ozil sebagai pengatur serangan kedua tim. 

Pertandingan juga akan menjadi pembuktian Barcelona untuk kembali menunjukkan bahwa gaya bermain tiki-taka mereka masih yang terbaik setelah dikalahkan oleh AC Milan yang mengandalkan disiplin tinggi dan efektivitas serangan. Apa yang dilakukan AC Milan layak ditiru oleh Real Madrid. 

Hasil pertandingan semifinal Copa Del Rey ini juga menjadi pertaruhan bagi Florentino Perez sebagai presiden Real Madrid. Los Galacticos jilid kedua yang dibangun Florentino Perez dengan mendatangkan bintang berharga selangit seperti Cristiano Ronaldo, Ricardo Kaka, Karim Benzema, Angel Di Maria, hingga Mesut Ozil sejauh ini hanya mampu meraih tiga gelar domestik. Jika gagal melaju ke final Copa Del Rey mungkin tidak hanya Jose Mourinho yang terdepak dari kursi pelatih, Florentino Perez mungkin akan mulai kehilangan kepercayaan dari fans. 

Melihat segala yang ada di atas kertas, Barcelona layak diunggulkan untuk melaju ke final menghadapi pemenang antara Sevilla atau Atletico Madrid. Tapi, bola masih bundar, apa pun bisa terjadi.
sumber : yahoo.com

Mitos Kemampuan Seks Atlet Binaraga

AFP Photo
Ditulis oleh: Aditya

Ada anggapan yang mengganjal: kalau jadi atlet binaragawan, maka kemampuan seks akan menurun. Bahkan bagi binaragawati, kemampuan reproduksinya menurun. Benarkah anggapan itu? 

Agung Santoso, mantan atlet binaraga, dengan tegas menepis anggapan tersebut. Kata dia dengan olahraga, justru metabolisme tubuh makin bagus dan terus meningkat. Begitu juga aliran peredaran darah, termasuk ke alat vital.  

“Kalau ada yang beranggapan seperti itu (seks terganggu), hanya kerena iri tidak memiliki otot bagus. Anggapan asal-asalan binaraga bisa memperkecil kepala, hidung, telinga dan lain-lain, pasti jawabannya tidak!," cetus pria yang punya nama samaran Agung Hercules itu.

Kendati demikian asumsi tersebut bisa jadi benar seandainya atlet menggunakan steroid. Boleh jadi hal ini akan mempengaruhi alat reproduksinya. Bukan hanya, bisa juga mempengaruhi jantung dan otak. 

Hal senada juga diungkapkan Bobby Ferdian, pelatih pada Elite Club Epicentrum. Dia memastikan bahwa anggapan masyarakat tersebut hanyalah mitos. Justru dengan latihan beban yang baik dan nutrisi memadai, kemampuan seks semakin besar.  

“Bagi yang tidak berolahraga, juga dianjurkan dokter untuk melakukan latihan beban agar kemampuan seksnya meningkat,“ ujar Bobby. 

Hario Tilarso, dokter olahraga, punya pandangan serupa. Dia memaparkan secara medis bahwa asumsi-asumsi kemampuan seks menurun dan pada lelaki alat kelaminnya mengecil akibat menjadi binaragawan, jelas tidak tepat. Itu hanya anggapan yang dibesar-besarkan. 

Dengan sedikit bergurau, Hario menuturkan, mungkin lantaran badannya besar, alat kelaminnya jadi tampak lebih kecil. “Padahal memang otot badannya yang gede,” jelasnya.  

Dia juga mengingatkan, kalau di badan ada serat-serat otot, sementara pada alat kemaluan pria tidak ada. “Yang ada seperti karet busa, darah mengalir sehingga penis menjadi kencang. Dan di penis tidak ada otot jadi tidak ikutan membesar,” urainya. 

Mengenai mitos binaragawati yang susah mempunyai keturunan, Hario mengatakan, tentu saja masih bisa mempunyai kesempatan untuk mempunyai keturunan. Kesulitan itu terjadi akibat hormon di badannya terganggu, begitu juga otot-ototnya.  

Otot perempuan itu lebih rendah 30 persen dibandingkan otot pria. Dan perlu dicatat, binaragawati itu tidak natural. “Yang seharusnya otot milik laki-laki jadi dimiliki oleh perempuan. Terjadi maskulinisasi, otot membesar, berambut, menstruasi terganggu,” ungkapnya.  

Walau begitu di Indonesia relatif tidak ada masalah. Kondisinya berbeda dengan di luar negeri. “Mereka kebanyakan mengonsumsi doping. Menggunakan steroid,” pungkas Hario.
sumber : yahoo.com