Senin, 04 Maret 2013

Laporan Pertandingan: Real Madrid 2-1 Barcelona

Laporan Pertandingan: Real Madrid 2-1 Barcelona
Real Madrid sekali lagi berhasil menaklukan Barcelona. Setelah menyingkirkan di Copa del Rey, kali ini pasukan Jose Mourinho unggul 2-1 atas Barca dalam lanjutan La Liga Spanyol, Sabtu (2/3) di Santiago Bernabeu. 

Gol cepat Karim Benzema memang berhasil dibalas oleh Lionel Messi di awal babak pertama. Namun, Sergio Ramos menjadi penentu kemenangan El Real lewat sundulan terarahnya delapan menit menjelang laga usai.

Meski mendapatkan tiga poin, jarak kedua tim masih terpaut 13 angka. Barcelona masih duduk di singgasana La Liga dengan poin 68, sementara Madrid masih tertahan di posisi tiga dengan 55 poin. 

Babak Pertama

Real Madrid langsung menggebrak pertahanan Barcelona di awal pertandingan. Beberapa kali serangan balik mereka menjadi anti-strategi dari ball possession punya Barca. Meski tanpa Cristiano Ronaldo, Xabi Alonso dan Mesut Ozil, kombinasi pemain-pemain lain seperti Kaka, Karim Benzema, Jose Callejon dan Alvaro Morata terlihat di awal tampak menjanjikan.

Tak perlu menunggu lama, gol yang dinantikan publik Santiago Bernabeu tersaji cepat di menit 6. Berawal akselerasi Alvaro Morata di sayap kiri, penyerang muda El Real itu melepaskan umpan silang ke depan gawang Victor Valdes. Bola meluncur ke kotak penalti tanpa mampu dihadang oleh Valdes dan Jordi Alba. Akibatnya, Benzema muncul dari belakang yang tanpa ampun langsung menceploskan ke gawang Barca. 

Namun, keunggulan 1-0 itu tak berlangsung lama. Tepat 10 menit berselang, Barca berhasil membalas gol cepat itu. Mendapatkan umpan terbosan dari Dani Alves, Lionel Messi berlari kencang ke ujung kotak penalti Madrid. Sambil menghadap ke gawang dan sempat dijaga oleh Sergio Ramos,Messi berhasil menembak ke gawang Diego Lopez untuk menyamakan skor. 

Gol ini adalah gol ke-50 Messi dari semua ajang yang diikuti Barca musim ini, sekaligus membawanya menyamai jumlah gol El Clasico yang dimiliki Alfredo Di Stefano. Rekor lainnya, La Pulga menjadi pemain pertama dalam sejarah yang mencetak gol secara beruntun di 16 pertandingan La Liga.

Menit 32, Messi kembali menjadi momok bagi pertahanan Madrid. Penyerang lincah berusia 25 tahun ini nyaris membobol gawang Madrid untuk yang kali kedua setelah bekerja sama dengan David Villa. Namun, tendangannya berhasil ditangkap dengan baik oleh Lopez

Tak lama berselang, giliran Madrid yang mengancam gawang Barcelona. Crossing Luca Modric dari sisi kanan memberikan ruang kosong bagi Alvaro Morata di kotak penalti Barca. Sayang, sundulan kerasnya hanya mengarah di jaring kanan gawang Valdes. Sampai akhir babak pertama, skor 1-1 tetap bertahan.

Babak Kedua

Di babak kedua, tempo permainan sedikit meningkat. Barca terus menguasai lapangan tengah Bernabeu, sementara Madrid mengandalkan serangan balik yang kurang berhasil di awal babak pertama. Masuknya Cristano Ronaldo dan Sami Khedira di menit 57 memberi suntikan tenaga di lini tengah Madrid. 

Sebelumnya, umpan matang Messi di menit 50 kepada Villa seharusnya mampu dikuasai baik oleh striker Spanyol itu yang tinggal berhadapan satu lawan satu dengan Lopez. Namun, bola berhasil dipotong sempurna oleh Raphael Varane untuk menggagalkan peluang Barca.

Cristiano Ronaldo lalu memberikan pengaruhnya di menit 58. Penyerang asal Portugal ini memang mengeksekusi tendangan bebas dengan baik. Tendangan torpedonya mengarah ke tengah gawang Barca, namun Valdes dengan sigap menghalaunya dan hanya menghasilkan tendangan sudut.

Skema direct play yang diperagakan tuan rumah nyaris berbuah hasil di menit 76 ketika Alvaro Morata berhasil lolos dari jebakan off-side setelah menyambut umpan Pepe. Sayang, dalam situasione-on-one, tendangan bomber berusia 20 tahun itu masih membentur tangan Valdes dan hanya menghasilkan corner kick.

Beberapa sepak pojok tersebut memang belum membahayakan gawang Barca. Namun di kesempatan berikutnya, terdapat sepak pojok yang membuat senyum suporter Madrid. Tepatnya di menit 82, ketika tendangan sudut Luka Modric berhasil menemui kepala Sergio Ramos untuk membawa Madrid kembali unggul. 

Bahkan, Ronaldo hampir memperlebar jarak setelah tendangan bebasnya membentur mistar gawang Barca. Bola muntah langsung disambar Pepe namun tembakannya masih melebar. 

Drama terjadi menjelang dan sesudah pertandingan. Penyebabnya, wasit tidak memberikan penalti ketika Adriano tampak terjatuh di kotak penalti saat laga memasuki injury time. Beberapa pemain Barca protes seusai laga. Bahkan Victor Valdes terpaksa dikartu merah seusai pertandingan karena melakukan protes berlebihan kepada Miguel Perez. 


Susunan Pemain:

Barcelona: Valdés, Alves, Piqué, Mascherano, Alba; Sergio, Thiago (Tello 85'), Iniesta; Villa (Alexis 67'), Messi, Pedro (Adriano 77')
Cadangan: Pinto, Puyol, Song, Cesc

Real Madrid: Diego Lopez; Sergio Ramos, Varane, Pepe, Coentrao (Arbeloa 68'); Essien, Modric; Callejon, Kaka (Khedira 57'), Benzema (Ronaldo 57'), Morata
Cadangan: Adan, Özil, Carvalho, Higuain

Daftar Pemain Bintang Incaran Arsene Wenger

Inilah Daftar Pemain Bintang Incaran Arsene Wenger
Pada pekan kemarin, Arsene Wenger sempat mengeluarkan klaim jika Arsenal pada musim panas nanti bakal memiliki dana belanja yang cukup mumpuni untuk membeli pemain kelas wahid.

Menurut The Sunday Mirror, inilah beberapa pemain bintang incaran sang juru taktik: Stevan Jovetic [Fiorentina], David Villa [Barcelona], Mario Gotze [Borussia Dortmund], Luis Gustavo [Bayern Munich], Etienne Capoue [Toulouse] dan Victor Valdes [Barcelona]. 

Beberapa nama di atas memang bukanlah target baru Wenger. Villa misalnya, dalam sejumlah kesempatan di bursa transfer, Wenger selalu berupaya mengangkutnya dari Camp Nou, namun negosiasi pada akhirnya selalu kolaps karena terkendala masalah upah. Namun, dengan Arsenal yang kini memiliki kekuatan finansial yang kompetitif, setidaknya menurut pandangan Wenger, bisa diperkirakan jalan transfer tidak akan alot.

Mesut Ozil: Real Madrid Bisa Kalahkan Manchester United

Mesut Ozil: Real Madrid Bisa Kalahkan Manchester United
Mesut Ozil: Real Madrid Bisa Kalahkan Manchester United
Gelandang Real Madrid Mesut Ozil yakin timnya memiliki kemampuan untuk lolos ke perempat-final Liga Champions dengan mengalahkan Manchester United di leg kedua babak 16 besar di Old Trafford, Rabu (7/3) dini hari WIB.

Di pertemuan pertama, Los Blancos hanya bermain imbang 1-1 saat menjamu The Red Devils di Santiago Bernabeu. Namun, Ozil yakin timnya dalam kondisi percaya diri tinggi usai meraih dua hasil bagus kontra Barcelona, menang 3-1 di leg kedua semi-final Copa del Rey dan 2-1 di lanjutan Primera Liga Spanyol.

"Akan menjadi pertandingan yang sulit lawan skuat yang sungguh bagus, tapi kami sudah menunjukkan kemampuan kami di leg pertama. Kami jelas tampil lebih baik di babak pertama, dengan menciptakan banyak sekali peluang," ujar Ozil kepada Die Welt.

"Kami punya hormat besar pada United, tapi kami ingin memainkan pertandingan kami sendiri, kalau kami bisa mengalahkan siapa pun. Jika Anda bisa menang di Barcelona, maka Anda juga akan bisa menang di Manchester."

Pemain asal Jerman itu kemudian berkomentar tentang pertemuan timnya dengan Azulgrana di musim ini.

"Saya suka bermain lawan tim terbaik di setiap hari. Setiap orang menyaksikannya. Bermain lawan Barcelona punya motivasi sangat besar. Clasico punya dampat besar dan bisa menyingkirkan mereka di Copa sungguh fantastis."

"Kami menunjukkan kalau kami bisa bermain lawan mereka dengan kekuatan ke kekuatan. Kami memenangi Piala Super lawan mereka dan kini menyingkirkan mereka di Copa. Kami bangga."

Selasa, 26 Februari 2013

Barcelona vs Madrid: Higuain Kembali Jadi Andalan Lini depan

Barcelona vs Madrid: Higuain Kembali Jadi Andalan Lini depan

TRIBUNNEWS.COM, BARCELONA - Real Madrid akan kembali berharap pada ketajaman Gonzalo Higuain ketika melakoni leg pertama semifinal Copa del Rey lawan Barcelona yang digelar di Nou Camp, Rabu (27/2) dini hari waktu Indonesia.
Pelatih Madrid, Jose Mourinho terpaksa mengandalkan Higuain lagi menyusul kondisi Karim Benzema yang masih meragukan karena masih dalam masa pemulihan cedera.
Sabtu lalu, bomber asal Argentina tersebut menyumbang satu gol saat Madrid menekuk Deportivo La Coruna 2-1 di La Liga. Itu merupakan gol ke-100 Higuain dalam 179 laga bersama Los Blancos. 

Retrospeksi Final Piala Liga Inggis 2013: Kemenangan Sepak Bola


Oleh: Yoga Cholandha

Semalam (24/2) waktu Inggris, telah terjadi sebuah peristiwa monumental yang bisa saja menjadi sebuah momen sekali seumur hidup bagi para penggemar sepak bola kekinian. Ketika sepak bola sudah terlalu identik dengan uang, uang, dan uang, Bradford City dan Swansea City hadir untuk mengingatkan kita semua bahwa sepak bola tidak pernah soal hitung-hitungan materi, melainkan apa yang ditampilkan di atas lapangan hijau.

Bradford City, jawara Piala FA 1911, adalah sebuah tim yang akan selalu lebih dekat dengan tragedi kebakaran di Stadion Valley Parade milik mereka tahun 1985 silam. Sebanyak 56 penonton tewas ketika itu. 

Sementara itu, meski berhasil mendapatkan puja-puji atas permainan cantiknya selama berlaga di Premier League dua musim terakhir, Swansea City belum pernah meraih trofi apa pun di belantara persepakbolaan Inggris. Mereka selama ini lebih dikenal sebagai tim pertama (sekaligus yang menyia-nyiakan) Giorgio “Long John” Chinaglia. Tidak lebih. 

Bradford City datang dengan gagah ke Wembley setelah dalam perjalanannya berhasil mengalahkan dua tim Premier League, Arsenal dan Aston Villa. Sedangkan Swansea berhasil menyingkirkan Chelsea di semifinal dalam saga yang diwarnai tendangan Eden Hazard ke perut anak gawang Stadion Liberty. Bradford City yang filosofi bermainnya masih sangat berbau Britania, akhirnya berhadapan dengan Swansea City yang tipe permainannya lebih kontinental, kalau tidak mau disebut berbau Spanyol.

Sebagai tim divisi empat, memang tidak banyak yang bisa diharapkan dari Bradford. Harga pemain mereka jika ditotal masih kurang dari gaji harian Wayne Rooney. Pemain-pemain mereka terdiri dari para pemain semi-pro, pemain-pemain belia, dan buangan dari tim lain. Beberapa di antara mereka malah ada yang baru benar-benar bermain sepak bola kurang dari tiga tahun lamanya. Perjalanan mereka di League Two musim ini pun tidak memuaskan. Mereka terjebak di papan bawah dan hanya menang dua kali dari 11 pertandingan terakhir.

Swansea City, selain dengan status sebagai tim anggota Premier League, punya modal lebih dari cukup untuk sekadar membungkam Bradford City. Kebijakan transfer mereka cerdas. Tidak hanya soal pemain, tetapi juga pelatih. Mereka musim ini mendaratkan tiga pemain berkualitas dengan harga miring. Sebut saja Michu Cuesta, Jonathan De Guzman, dan Ki Sung-Yeung. Lalu untuk menggantikan Brendan Rodgers, mereka mendatangkan juru taktik berbakat asal Denmark, The Mighty Michael Laudrup. 

Di bawah Laudrup, permainan Swansea musim ini mengalami perkembangan yang cukup signifikan. Mereka tidak hanya piawai menguasai bola, tetapi serangan-serangan mereka juga jauh lebih berbahaya. Terakhir, sebelum laga melawan Bradford City, mereka sudah menyimpan kekuatan terbaik mereka meskipun harus dibayar dengan kekalahan 0-5 dari Liverpool.

Hasilnya sesuai dugaan. Bradford City harus puas kejutannya terhenti. Mereka takluk dengan skor telak 0-5 dari Swansea. Nathan Dyer mencetak dua gol, Jonathan De Guzman mencetak dua gol, Michu mencetak satu gol, dan penjaga gawang Bradford City, Matt Duke, mendapat kartu merah. Meskipun diwarnai dengan adegan berebut tendangan penalti dengan Jonathan De Guzman, Nathan Dyer tetap dinobatkan sebagai “Man of the Match” pertandingan kali ini.

Hasil ini sama sekali bukan antiklimaks bagi Bradford City, melainkan sebuah penghargaan yang layak atas Swansea City. Dengan melaju sampai babak final saja, rasanya itu sudah cukup melenakan para pendukung Bradford City. Sementara untuk Swansea City, mereka memang sudah saatnya memenangi sesuatu, dan gelar Piala Liga ini diharapkan menjadi pembuka. Bradford City tidak sepenuhnya kalah, karena mereka sudah melakukan yang terbaik. Menyingkirkan Arsenal tentunya sudah merupakan prestasi tersendiri, bukan?

Menyenangkan rasanya melihat dua tim dengan perjuangan finansial seperti Bradford City dan Swansea City bisa mentas di partai final kejuaraan nasional seperti ini. Krisis finansial membuat The Bantams harus terlempar dari Premier League pada 2001. Sampai sekarang, mereka belum pernah lagi merasakan nikmatnya berlaga di kompetisi kasta tertinggi di Inggris tersebut. Sementara Swansea, di periode yang hampir sama (musim 2001-2002) juga pernah mengalami kebangkrutan hingga akhirnya kepemilikannya diambil oleh kelompok suporter mereka, Swansea City Supporters’ Trust.

Jalan yang ditempuh Swansea City memang lebih menyenangkan ketimbang Bradford City. Di bawah kawalan suporter setia, Swansea City berhasil melakukan trajektori sempurna untuk berlaga di kompetisi kasta tertinggi Liga Inggris. Filosofi ball retention yang saat ini lekat dengan mereka pun tidak jadi dalam satu malam. Mulai dari Paulo Sousa, Roberto Martinez, hingga Brendan Rodgers dan Michael Laudrup semuanya menanamkan filosofi sepak bola indah tersebut ke dalam klub yang bagai dilahirkan kembali ini.

Sekarang, Swansea menghadapi awal dari sebuah era baru sebagai salah satu tim yang diperhitungkan di kancah persepakbolaan Inggris. Fase mereka sebagai tim kejutan seharusnya sudah mampu mereka lewati. Musim depan mereka akan berlaga di Eropa untuk pertama kali sebagai wakil dari Inggris. Mereka pernah melakukannya di musim 1991/92 sebagai wakil Wales di Cup Winners’ Cup. Kali ini, situasinya benar-benar lain. Sebagai wakil Premier League, liga yang paling disorot saat ini, tekanan di tubuh Swansea akan semakin kuat. Musim depan, ujian sesungguhnya akan dihadapi Swansea City.

Lebih dari semua itu, pertandingan final Piala Liga tadi malam adalah kemenangan sepak bola itu sendiri. Selain karena mempertemukan dua tim tanpa tradisi prestasi yang kuat, semalam, trofi Piala Liga juga diserahkan oleh Fabrice Muamba. Muamba, eks-gelandang Bolton Wanderers itu harus pensiun dari dunia sepak bola karena jantungnya tak lagi mengizinkan untuk terus bermain sepak bola secara profesional. Terakhir, momen final Piala Liga semalam juga semakin indah karena bertepatan dengan 20 tahun wafatnya Bobby Moore, kapten Inggris di Piala Dunia 1966.

Sembari mengenang Bobby Moore dan memberi penghormatan kepada Fabrice Muamba, sepak bola Inggris semalam merayakan sebuah momen penting yang menunjukkan bahwa tidak selamanya sepak bola modern dapat diukur dengan kekuatan finansial. Mereka sekaligus juga mampu mengejawantahkan pepatah buatan Sepp Herberger, pelatih legendaris Jerman itu, yang berbunyi: bola itu bundar. 

Selamat untuk Swansea City, selamat untuk Bradford City.

Tips Membeli Sepatu Sepak Bola

Sepatu Zlatan Ibrahimovic (Claudio Villa/Getty Images)
Sepatu Zlatan Ibrahimovic (Claudio Villa/Getty Images)

Ditulis oleh: Kusuma

Olahraga sepak bola erat kaitannya dengan sepatu. Pemain sepak bola profesional diwajibkan menggunakan sepatu di lapangan hijau untuk bermain dan berlatih. 

Namun yang jadi pertanyaan, apakah semua sepatu bisa digunakan untuk bermain sepak bola? Jawabannya tidak. Jika Anda salah memilih maka bisa-bisa Anda mengalami cedera serius. 

Bahkan sepatu yang sudah khusus untuk bermain sepak bola pun tak bisa kita pilih secara sembarangan. Ada beberapa faktor yang harus diperhatikan agar bisa menemukan sepatu yang ideal. 

Kesalahan dalam memilih sepatu pernah dirasakan oleh legenda Manchester united, Eric Cantona. Akibat dirinya salah memilih sepatu, Cantona mengalami cedera serius pada tahun 2005. Hal tersebut membuat sang manajer, Sir Alex Ferguson mencak-mencak. 

Lantas apa yang harus diperhatikan dalam memilih sepatu sepak bola? Jika hal itu ditanyakan kepada gelandang Arema Malang, Djoko Sasongko, sepatu yang ideal tentulah sepatu yang nyaman ketika digunakan. 

“Sepatu yang nyaman itu yang pas buat di kaki kita. Jadi enak buat gerak kemana pun,” tutur mantan pemain timnas U-23 SEA Games tersebut. 

Soal harga, Djoko mengatakan hal itu bukanlah sebuah jaminan. Menurutnya, akan percuma membeli sepatu mahal tapi tak sesuai dengan ukuran kaki sang pemakai.  

“Kalau saya yang penting sepatu itu nyaman di kaki. Percuma mahal-mahal tapi tidak nyaman,” jelasnya lagi. 

Lantas bagaimana cara mengetahui kita bisa sesuai dengan sepatu yang akan dibeli? Jangan langsung jatuh hati pada sepatu yang ingin Anda beli hanya dengan mencobanya di depan cermin. 

Pakai sepatu dengan berjalan atau berlari di sekitar toko biar betul-betul enak memakainya saat berolahraga. Jangan lupa, untuk memakainya dengan kaos kaki. Karena kaos kaki menyempurnakan kenyamanan memakai sepatu.  

Ternyata tak semua pemain suka membeli sepatu yang pas di kakinya. Pemain belakang Persijap Jepara, Gunawan Dwi Chayo, mengatakan dirinya lebih suka membeli sepatu yang sedikit lebih kecil dari ukuran kakinya. 

“Jadi kalau beli yang kecil, nanti sepatunya bisa melar. Nah, nantinya sepatu itu akan terbentuk sesuai kaki kita,” ungkap pemain yang pernah membela Arema Indonesia itu. Jadi pada akhirnya, yang dibutuhkan adalah pas cetakan kaki. 

Kalau soal harga, Gunawan sepakat dengan Djoko. Menurutnya, sepatu mahal tak menjamin akan membuat sang pemain terhindar dari cedera. “Soal harga tak masalah, yang penting nyaman,” lanjutnya. 

Selain soal ukuran dan harga, bahan sepatu juga layak diperhatikan. Tapi, kata Gunawan, penentuan bahan sepatu disesuaikan dengan lapangan yang akan digunakan. 

“Bahan sepatu itu ada yang kulit sama bahan biasa. Itu semua nanti disesuaikan dengan kondisi lapangan,” ungkap suami Okky Agustina tersebut. 

Bentuk pul (stud - tonjolan di bawah sepatu bola) juga menjadi salah satu faktor penting. Akibat memakai sepatu dengan pul berbentuk blade, David Beckham, Danny Murphy, Gary Neville, Trevor Sinclair, Wayne Rooney dan Steven Gerrard harus mengalami cedera metatarsal (retak tulang telapak kaki).  

Karena itu memilih sepatu bola memang bukan perkara asal-asalan. Mulai dari jenis, ukuran dan terutama harganya. Masih mau beli sepatu sepak bola yang mahal atau memilih sepatu yang nyaman untuk Anda?

Kecewa FIFA, La Nyalla Tarik Kembali Ucapannya


BOLA.NET - Sosok Ketua Umum Komite Penyelamat Sepak Bola Indonesia (KPSI) La Nyalla Mahmud Matalitti, seolah tidak habis membuat langkah yang kontroversial.
Setelah sebelumnya sempat menyatakan akan membubarkan KPSI setelah dirinya kembali ke kantor PSSI, La Nyalla mengatakan bahwa rencana tersebut belum akan terlaksana dalam waktu dekat. Kontan saja sikap tersebut membuat dirinya seakan menjilat ludah sendiri.
Alumnus fakultas Teknik asal Universitas Brawijaya (1965-1971) yang lahir di Jakarta, 10 Mei, 1659 tersebut, mengaku memiliki alasan kuat sehubungan membatalkan niat membubarkan KPSI.
Ketua Pengurus Provinsi (Pengprov) PSSI Jawa Timur tersebut mengatakan, mempertanyakan konsistensi FIFA yang sebelumnya mengamanatkan terselenggaranya Kongres Biasa (KB) oleh PSSI dan KPSI.
Dikatakannya lagi, FIFA sebelumnya mengamanatkan menggelar Kongres Biasa yang tercantum dalam Nota Kesepahaman (MoU) antara PSSI dan KPSI di Kuala Lumpur, Malaysia, 7 Juni 2012. Kemudian, katanya lagi, seputar pelaksanaan KB kembali ditegaskan melalui surat FIFA tanggal 18 Desember.
"Artinya, sekarang FIFA yang melanggar kesepakatan. Sehingga, jangan salahkan kami kalau KPSI jalan terus. Sebab, Kongres Luar Biasa (KLB) bukan amanat MoU," ucapnya.
Dengan begitu, La Nyalla seolah mengabaikan seruan Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) supaya semua pihak patuh dan hanya berpegang pada surat FIFA tertanggal 22 Februari yang ditanda tangani Kepala Asosiasi anggota FIFA Primo Carvaro. Secara terang-terangan Menpora mengatakan, surat tersebut merupakan jawaban atas semua pertanyaan yang pernah disampaikannya kepada FIFA.
FIFA menjelaskan, jika Kongres PSSI berstatus KLB dan bukan KB. Hal tersebut diputuskan FIFA setelah mempertimbangkan tenggat waktu pelaksanaan Kongres.
Sesuai statuta FIFA, Kongres memang harus berstatus KLB. Kongres PSSI pada 17 Maret nanti, hanya memiliki waktu persiapan sekitar empat minggu atau setelah pihak PSSI dan KPSI yang difasilitasi Menpora melakukan kesepakatan di Jakarta, pada 18 Februari.
Selain itu, pemutusan KLB dilakukan untuk menghindari kemungkinan adanya pengubahan agenda dari yang sebelumnya telah disepakati FIFA dan AFC. Yakni, tentang penyatuan liga, revisi statuta, dan pengembalian empat mantan Komite Eksekutif (Exco) terhukum, La Nyalla Mahmud Mattalitti, Roberto Rouw, Tonny Aprilani, dan Erwin Dwi Budiawan.
Pada KB, agenda bisa diubah sesuai dengan keputusan peserta yang hadir. Sedangkan di KLB, agenda yang telah ditetapkan sebelumnya tidak bisa diubah. (esa/dzi)